Perlahan tapi pasti , udara panas semerbak mengalir di antara celah celah kecil jendela halte. Panas memang. Tapi entah kenapa ia terasa sangat nyaman, menyejukkan bahkan. Kehadirannya serasa memutar kembali semua memori tentang tempat ini.
Ini hari, setelah sekian lama, akhirnya tiba juga waktuku untuk pulang. Mudik, seperti kebanyakan masyarakat kita menyebutkannya demikian. Berbulan bulan melewati segala persoalan, hari ini menjadi teramat sangat istimewa.
Lama aku menunggu, akhirnya ia datang juga. Sebuah bus berukuran sedang bercat hijau berhenti tepat di depanku. Secara perlahan pintu pun terbuka, dan seketika itu pula kutemui seulas senyum kecil tersungging dari wajah seorang pemuda yang berdiri tepat di samping pintu bus. Pemuda itu tampak canggung. Namun aku tahu dari wajahnya terpancar semangat. Apapun semangat itu, terasa sangat menggetarkan jiwaku. Dan memang benar adanya, ketika kami berdua bertatapan mata, terlihat olehku adanya harapan kuat mengalir dari tatapan matanya. Dalam kenyataan bahwa dirinya hanya seorang kondektur, tidak membatasi dirinya untuk dapat lebih berguna bagi orang lain. Bahkan seulas kecil senyum aku rasa dapat memberikan harapan dan ketenangan bagi orang lain. Dan hal ini tepat bisa dilakukan olehnya, dengan atau tanpa ia sadari.
Tanpa kubiarkan anganku melayang terlampau jauh, segera kulangkahkan kakiku memasuki bus itu. Pandanganku segera tertuju ke sebuah bangku di samping jendela belakang kursi sopir. Bangku itu kosong, dan entah kenapa ketika mengetahui hal itu, tanpa sadar terdengar alhamdulillah mengalir lirih dari mulutku. Hal yang selama ini sangat jarang terjadi. Aku sendiri juga kaget mendengarnya. Senyum sang kondektur ternyata berefek sampai di bawah alam sadarku, untuk kemudian membangkitkan kepribadian lain dalam diriku atau apapun itu aku juga tak memahaminya.
Dari awal memang telah kurencanakan untuk duduk di pinggir jendela. Bagiku terasa sangat menyenangkan dapat melihat orang orang sedang berlalu lalang mengerjakan sesuatu. Dari tempat ini pula aku ingin melihat kota ini setelah sekian lama aku tinggalkan. Setidaknya demikianlah rencanaku pada mulanya.
Setelah semua penumpang terangkut, pelan pelan bus bergegas pergi meninggalkan halte tadi. Keadaan di dalam bus cukup lengang, hanya ada sekitar tujuh orang penumpang. Di bangku belakang seorang bapak sedang bercanda dengan dua orang anak kecil, yang aku rasa keduanya adalah putra-putrinya. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia. Dua bangku di sampingnya seorang pria paruh baya sedang sibuk membolak balik halaman sebuah suratkabar terkemuka di negeri ini, yang menurut isu yang pernah aku dengar merupakan perpanjangan tangan sebuah misi keagamaan tertentu. Di samping pria itu, tampak tertidur pulas seorang pemuda yang aku rasa seorang mahasiswa. Di tangannya tertekuk sebuah jas almameter yang kalau aku tidak salah merupakan jas almameter perguruan tinggi negeri terkemuka di kota ini. Dua orang lagi aku tak mempunyai gambaran apa dan siapa mereka. Mungkin hanya orang biasa. Mungkin juga tidak. Yang jelas tak sedikit pun terlintas pikiranku tentang mereka.
Kubuka ritsleting tasku, kuambil sepasang headset sebuah merk handphone yang sudah sangat dikenal masyarakat kita. Segera saja kusambungkan dengan handphone, dan langsung aku pencet menu radio. Daripada terus terusan melamun tidak jelas, aku rasa akan lebih menyenangkan mendengarkan siaran radio kota ini yang sudah lama tidak aku dengar. Channel radio berfrekuensi 101.7 fm menjadi pilihanku. Dan tidak lama kemudian segera mengalun lagu lagu anak negeri ini.
Bus perlahan berhenti. Pintu terbuka, hal yang sama kembali terjadi, tapi aku tidak yakin ada orang yang akan berpikiran sama denganku tadi. Aku rasa tidak mudah bagi seseorang untuk berpikiran sama dengan orang lain, setidaknya itu yang ada dalam pikiranku. Tapi ini lah yang kemudian terjadi. Sesosok perempuan, aku menyebutnya perempuan karena aku rasa perempuan memiliki derajat lebih tinggi dari seorang wanita, berdiri tepat di depan halte, bergegas masuk kedalam bus ini. Masih dalam pandanganku, perempuan itu menuju bangku kosong di samping jendela tepat di depanku. Aku rasa inilah yang disebut salah satu anugerah terindah dari yang mahakuasa, bahwa tidak ada yang namanya kebetulan, semuanya telah tertulis oleh kuasaNya, termasuk kejadian yang saat ini terjadi.
Dari wajahnya terpancar aura keanggunan, keangkuhan. Bagi sebagian orang mungkin ia cantik, mungkin pula tidak. Tidak ada penggambaran jelas tentang dirinya. Setiap orang punya hak prerogative untuk mengintrepentasikannya sendiri.
Saat itu entah kebetulan atau tidak, dari kedua earphone yang tergantung di telingaku mengalun sebuah lagu yang sudah lama tak terdengar olehku. Untaian nada yang memberi renungan , yang memberi ketenangan, yang memberi harapan, lagu yang penuh kenangan. Lirik yang jujur, yang pantas menjadi renungan bagi semua orang.
Sebuah cinta telah datang dariNya
Pada kita yang tlah terlupa akan satu nikmat dunia
Hingga kita pun terus terlena
Meninggalkan melupakanNya
Mengangkat semua sisi dunia
Hingga kita membuat Dia murka
Tuhan telah menjatuhkan cobaan
Dengan cinta pemberianNya
Dia tumpahkan titik murka
Sadarkah kita ini sepaham
Tuk mengerti arti cinta
Yang telah dianugerhkanNya
Karna cinta yang bisa membuat kita lupa
Dan bisa membuat kita luka
Tak terhingga sakit terasa
Tapi semua karna cinta
Yang bisa buka hati kita
Mengubah semua jadi indah
Hingga tiada tangis dan duka.
Aku terdiam, ada sesuatu yang mengalir di dadaku. Apapun itu terasa menyesakkan tapi entah kenapa juga menyejukkan. Aneh, tapi inilah bukti lain indahnya kuasaNya.
Bus perlahan melambat. Aku terhenyak dari lamunanku. Kini tinggal aku satu satunya penumpang di bus ini. Tak berapa lama lagi aku akan sampai di tempat itu. Dan memang benar. Di kejauhan mulai tampak sebuah bangunan yang sangat aku kenal. Monumen batu yang telah mejadi saksi perubahan peradaban di negeri ini.
Dengan diiringi senyum yang sama, dengan langkah yang penuh keyakinan segera kujejakkan kakiku keluar dari bus ini. Inilah akhirnya. Inilah akhirnya. Aku pulang. Jogja, I’m home.

0 komentar:
Post a Comment